Tag Archives: kehidupan bermasyarakat

Video Itu, Saya, Keluarga dan Masyarakat

Oleh: Mula Harahap

Fenomena beredarnya video “mirip” Ariel Pieterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari tiba-tiba menyadarkan saya betapa ukuran-ukuran moral sudah sangat berubah–di dalam diri saya dan di sekitar saya–sebagai akibat perubahan teknologi informasi dan komunikasi:

Kabar mengenai beredarnya video ini mula-mula saya ketahui ketika membaca beberapa situs berita di internet. Di dalam situs-situs tersebut ditamplkan pula “photo still” dari Luna Maya yang sedang berbaring sehingga membuat saya jadi sedikit “penasaran”. Tapi karena sejak lama saya sudah membangun sikap untuk tidak mau menonton orang yang memang tidak ingin ditonton, maka rasa penasaran itu bisa saya tekan.
Continue reading

Advertisements

Elek hamu jo borumuna on, Tulang…..

Oleh: Mula Harahap

Saya sedang duduk-duduk di kantin yang ada di sebelah gedung pertemuan Batak itu; menunggu kedatangan teman-teman semarga saya yang lainnya. Hari itu –dalam pesta pernikahan itu–saya berfungsi sebagai hula-hula atau tulang dari mempelai perempuan.

Sebenarnya mempelai perempuan adalah orang Minahasa, yang kemudian diberi marga S, dan diadopsi secara adat menjadi puteri dari ito saya (saudara sepupu saya dari ompung martinodohon) yang menikah dengan seorang lelaki marga S. Adapun mempelai lelakinya, yang bermarga G, sebagaimana yang biasa terjadi dalam adat Batak, tentu saja adalah “bere” dari ito dan lae saya tersebut. Tapi apakah ibu dari mempelai lelaki itu adalah saudara kandung atau saudara sepupu dari lae saya yang bermarga S itu, saya kurang tahu jelas.
Continue reading

Kehilangan Guru

Oleh: Sal Hutahaean

Ibu Santun adalah guru saya ketika SD, empat puluh tahun lalu. Orangnya kecil, mungil, dengan wajah yang selalu tampak ceria. Wajahnya mirip Sherina cilik, dengan jidat yang selalu mengerinyut manis. Sosok Ibu Santun sebenarnya bisa disebut ringkih, karena selain bertubuh kecil, ia pun pendek, dan agak kurusan pula. Akan tetapi, keceriaan yang selalu tampil di wajahnya menghilangkan kesan tubuh yang ringkih itu, yang ada adalah sosok guru yang lincah dan menyenangkan.

Ibu Santun seorang guru yang baik. Seingatku, beliau tidak pernah marah. Ia termasuk berperilaku sabar untuk seorang guru muda yang usianya saat itu belum mencapai tigapuluh tahun. Ia membimbing murid-muridnya dengan kesabaran seorang ibu. Dia memang telah menjadi seorang ibu kala itu. Kewajiban mengajar murid sekolah dan kewajiban mengasuh bayinya dikerjakannya bersamaan.
Continue reading

Dari Merak Ke Bakaheuni

Oleh: Agan Harahap

Kapal ferri yang saya naiki siang itu nampaknya sudah renta. Dengan karat di sana-sini, berjalan tertatih-tatih mengarungi Selat Sunda menuju pulau Sumatera. Memang bukan kali pertama ini saya naik kapal ferri. Dulu sewaktu masih duduk di kelas 4 SD, saya pernah menyeberangi Selat Sunda bersama bapak dan adik saya dengan bus Makmur menuju Medan. Sebagai hadiah hiburan karena saya tidak naik kelas 🙂

Setelah bertahun-tahun kemudian, kemarin siang saya dan Bello kembali menyebrangi Selat Sunda. Yeahh! Sebuah perjalanan dinas yang cukup istimewa. ( Hmm, buat saya, ini mungkin semacam napak tilas yang cukup menggetarkan hati, ya. Haha).

“Sepanjang kitaa masih teruss beginiii.. takkan pernah ada damai bersenandung… “ Lagu yang dibawakan oleh Trio Ambisi itu lantang terdengar menyesaki gendang telinga saya.. Sang “dj” nampaknya terlalu memaksakan kapasitas volume tape tua yang sudah tidak ada rangkanya itu. Ia duduk dengan tenang sembari menunggu kaset-kaset jualannya laku sambil sibuk mengutak-utik hp-nya. Mungkin sedang ber-sms ria dengan sang kekasih nun jauh disana.
Continue reading

Cerita Tentang Daging dan “Osang-osang” Babi

Oleh: Mula Harahap

Hari Jumat yang lalu, dalam kapasitas sebagai hula-hula dalam upacara penguburan seorang lae, saya mendapat jambar setumpuk daging babi. Sebenarnya jambar yang menjadi bagian saya tidaklah terlalu banyak. Tapi semua abang, amanguda dan amangtua saya menyerahkan jambar-nya kepada saya. Mereka memang selalu begitu. Alasannya tentu bukanlah karena saya gemar memakan daging babi (saya jarang sekali memakan daging babi) tapi karena sayalah orang yang paling menurut untuk disuruh melakukan apa pun, dan juga karena mobil sayalah yang paling jorok. (Siapa pula yang mau membawa daging yang sudah dibiarkan terbuka sepanjang hari tanpa pendingin–dan mulai mengeluarkan bau yang kurang sedap–di mobilnya yang bersih dan wangi itu?). Begitulah, karena sudah kelelahan, daging itu hanya saya simpan di kulkas. (Bagaimana tidak kelelahan? Rabu sepanjang malam, Kamis sepanjang malam, dan Jumat pagi sampai malam saya ada di rumah duka).
Continue reading

Daya Kenyal Orang Indonesia dan Pancasila dalam Beberapa Bahasa Etnis

Oleh: Mula Harahap

Ketika Indonesia diterpa krisis di tahun 1998, yang mengakibatkan jatuhnya rezim otoriter Suharto yang telah berkuasa selama hampir 30 tahun itu, banyak orang yang meragukan akan keutuhan dan kelanjutan dari NKRI. Akankah Indonesia ini mengikuti sejarah negara-bangsa yang pernah diperintah oleh sebuah rezim tangan besi seperti Yugoslavia atau Uni Soviet, yang kemudian berantakan dan bubar setelah rezim itu turun?

Tapi tak kurang juga banyaknya orang yang optimis akan keutuhan dan kelanjutan Indonesia. Saya masih ingat pada waktu itu Prof. Dr. Emil Salm berkata, “Bila krisis yang menimpa Uni Soviet dibandingkan dengan yang menimpa Indonesia, maka krisis yang menimpa Uni Soviet itu tidak ada apa-apanya. Tapi lihatlah, negara itu langsung bubar dan berantakan, sementara kita masih tetap utuh…”
Continue reading

Si Olo: The Legend

Oleh: Mula Harahap

Setiap kultur mempunyai istilahnya sendiri untuk orang-orang yang hidup di atas atau di luar hukum. Di Italia mereka disebut bandit, di Inggeris mereka disebut outlaw, di New York mereka disebut mob, di Banten mereka disebut jawara, dan di Medan mereka disebut preman.

Sebenarnya preman berasal dari kata Belanda vrijman, yang artinya adalah orang sipil; bukan militer. Kurang jelas bagi kita mengapa orang-orang yang bertindak di luar hukum itu disebut sebagai vrijman (orang sipil). Mungkin dulu hanya militer-lah (militer Belanda) yang boleh mengancam-ngancam dan menakut-nakuti orang. Karena itu ketika di Medan ada orang yang bukan militer ikut-ikutanmengancam-ngancam dan menakut-nakuti orang maka dikatakanlah, “Akh, itu bukan kerjaan militer. Itu kerjaan orang sipil atau preman….” Lalu lambat-laun preman pun mendapatkan artinya yang baru.
Continue reading