Tag Archives: kehidupan keluarga

Video Itu, Saya, Keluarga dan Masyarakat

Oleh: Mula Harahap

Fenomena beredarnya video “mirip” Ariel Pieterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari tiba-tiba menyadarkan saya betapa ukuran-ukuran moral sudah sangat berubah–di dalam diri saya dan di sekitar saya–sebagai akibat perubahan teknologi informasi dan komunikasi:

Kabar mengenai beredarnya video ini mula-mula saya ketahui ketika membaca beberapa situs berita di internet. Di dalam situs-situs tersebut ditamplkan pula “photo still” dari Luna Maya yang sedang berbaring sehingga membuat saya jadi sedikit “penasaran”. Tapi karena sejak lama saya sudah membangun sikap untuk tidak mau menonton orang yang memang tidak ingin ditonton, maka rasa penasaran itu bisa saya tekan.
Continue reading

Advertisements

Ulang Tahun Ibu

Oleh: Mula Harahap

Ketika di akhir tahun 1972 saya tamat SMA, kehidupan ekonomi keluarga kami sedang berada di titik nadir. Oleh karena itu saya tidak pernah berani membicarakan kepada ayah dan ibu tentang rencana melanjutkan sekolah. Padahal, di dalam hati, sebenarnya saya juga ingin seperti kawan-kawan melanjutkan sekolah di perguruan tinggi di Jakarta, Bandung, Jogja dsb.

Tapi pada akhir tahun itu, secara kebetulan, ulang tahun ompung saya dirayakan secara besar-besaran di Medan oleh anak-anaknya. Seorang namboru saya, yang bermukim di Jakarta, juga pulang ke Medan bersama suami dan anak-anaknya.

Rupanya kelanjutan sekolah saya menjadi pembicaraan antara namboru, amangboru, ayah dan ibu. Namboru menawarkan apakah saya mau ikut ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah dan tinggal bersamanya. Tentu saja tawaran itu saya sambut dengan gembira, karena memang itulah keinginan saya, dan saya tak melihat jalan lain untuk bisa melanjutkan sekolah kecuali ikut dengan keluarga namboru.
Continue reading

Hari Ini 26 Tahun yang Lalu

Oleh: Mula Harahap

Hari Minggu malam tanggal 5 Juni 1983 itu, ketika saya, isteri dan kedua anak saya sedang bersiap-siap untuk tidur, pintu pagar diketuk. Di hadapan saya muncul namboru dan amangboru saya Hasibuan, serta amangboru saya Siahaan yang sebenarnya bermukim di Medan, dan mungkin sedang berada di Jakarta untuk suatu
urusan.

Oleh karena di keluarga kami saling mengunjungi menjelang tengah malam sudah merupakan “adat”, maka saya tidak langsung menaruh kecurigaan atas kedatangan mereka. Saya mempersilakan mereka duduk. Tapi kemudian setelah sedikit berbasa-basi, amangboru saya Siahaan langsung angkat bicara. Katanya dia baru
mendapat telepon dari Medan yang mengabarkan bahwa laenya, yaitu ayah saya, sedang dalam keadaan kritis di RS Elizabeth.
Continue reading

Saya sih mau bolpen, bukan mau Yesus….

Oleh: Mula Harahap

Peristiwa yang akan saya ceritakan berikut ini sudah lama sekali berlalu. Tapi kalau mengenangnya saya selalu tersenyum-senyum:

Suatu sore saya diminta oleh kedua anak saya untuk mengantarkan mereka ke gereja guna mengikuti sebuah acara mendadak. Malamnya, ketika menurut perhitungan saya acara itu telah berakhir, saya kembali ke gereja untuk menjemput.

Ternyata acara yang berlangsung di Gedung Pertemuan Lantai 2 itu belum selesai. Tapi yang menarik perhatian saya ialah bahwa saya melihat anak lelaki saya sedang duduk seorang diri di lantai bawah dengan raut muka yang sangat “suntuk”.
Continue reading

Camp untuk Mengisi Libur Panjang Anak-anak

Oleh: Mula Harahap

Ketika anak-anak saya masih duduk di bangku SD, bulan Juni seperti sekarang ini adalah bulan yang menggelisahkan bagi saya. Anak-anak itu akan menjalani libur panjang sekolah. Sementara itu, karena pekerjaan, saya tidak mungkin mengambil cuti panjang menemani mereka berlibur. Paling-paling saya hanya bisa mengambil cuti selama 2 atau 3 hari dan menemani mereka ke luar kota.

Saya selalu kasihan melihat anak-anak, karena sebagian besar libur panjang itu akan mereka habiskan di rumah. Sebenarnya bisa saja saya mengirimkan mereka ke tempat sanak-saudara di kota lain. Tapi mereka tidak mempunyai teman bermain yang sebaya di sana. Karena itu paling-paling, sama seperti di Jakarta, mereka hanya akan menghabiskan waktu di dalam rumah.
Continue reading

Ompung Odong-odong

Oleh: Mula Harahap

Entah mengapa, kalau melihat saya, cucu saya yang bernama Gisella, dan yang baru berumur 2 1/2 bulan itu, selalu bertingkah. Mula-mula dia akan tersenyum dan menggeliat-geliatkan tubuhnya. Kemudian kalau saya belum juga memberikan reaksi dia akan mengangkat-angkat pantatnya dan menggerak-gerakkan kedua kaki dan tangannya seperti orang sedang mengayuh becak. Dan kalau saya masih juga belum memberikan reaksi, maka mulailah dia mendorong-dorong tubuhnya ke atas dengan menekan kedua kakinya di atas seperai–seperti belatung atau jentik-jentik nyamuk–seraya mengeluarkan suara, “Ehek…ehek….ehek…” Kalau sudah sampai di fase yang terakhir ini, tentu saja saya akan jatuh hati dan mengangkatnya dari tempat tidur.

Continue reading

Doa Untuk Seorang Ibu Yang Anaknya Menderita Autis, Asperger Syndrome, dsb

Oleh: Mula Harahap

Berbahagialah dia karena cepat dipanggil `mama’. Aku dulu menunggu 5 tahun untuk dipanggil `mama’ oleh anakku. Itu juga setelah terapi 1,5 tahun lamanya. (RH–seorang ibu dari anak penderita asperger syndrome)

Pengakuanmu mengingatkan saya terhadap beberapa orang tua yang juga mengalami pergumulan yang sama.

Pertama, saya teringat kepada Ibu T, sahabat isteri saya. Dua belas atau tiga belas tahun yang lalu ia menceritakan kepada kami bahwa J, cucu pertamanya, dari anaknya yang pertama, menderita autis. Secara sepintas tidak akan ada orang yang tahu bahwa anak lelaki berambut pirang, yang berumur 2 tahun, dan yang menyerupai anak orang barat itu, menderita sebuah kelainan. Tapi kalau dilihat lebih seksama, barulah kita menyadari bahwa J memang tidak sama dengan anak-anak sebayanya. Ia belum bisa berbicara. Ia tidak bisa menatap mata orang. Ia tidak bisa menanggapi hal yang diminta oleh lawan bicaranya. Perhatiannya selalu
terpusat kepada hal lain yang mungkin lebih menarik hatinya.

Continue reading