Tag Archives: pendidikan anak

“Ibu Guru, bapak saya hebat, lho….”

Oleh: Mula Harahap

Buku-buku psikologi perkembangan anak sering mengatakan tentang petingnya seorang bapak menanamkan citra dirinya sebagai sosok yang kuat dan melindungi di mata anak lelakinya. Saya sadar sekali tentang hal tersebut dan selalu berusaha untuk menjadi demikian. Tapi–mungkin disebabkan karena terlalu sering menonton filem-filem kekerasan di teve–entah apa pun yang saya lakukan, anak lelaki saya itu selalu lebih memuji bapak orang lain. Dia terutama sangat kagum dengan tetangga kami yang disapanya sebagai “Oom Nas”. Kawan itu memang memiliki postur tubuh yang jauh lebih berisi daripada saya, dan dadanya ditumbuhi banyak bulu “pulak”.
Continue reading

Kenangan Semasa Masih Bersekolah di SR PSKD Kwitang VII

Oleh: Mula Harahap

Saya bersekolah di PSKD VII (Jl. Sam Ratulangi) antara tahun 1963-1964. Saya dan adik-adik mengikuti ayah dan ibu. Ayah saya berencana untuk mencari pekerjaan baru di Jakarta. Tapi entah mengapa, setelah delapan bulan di Jakarta, ia mengurungkan rencananya dan kami semua kembali ke Medan.

Selama beberapa bulan di Jakarta kami tinggal di rumah Ompung (ibu dari ibu saya) yang terletak di Jalan Timor 19 Pavilun. Ada pun rumah induknya ditempati oleh Keluarga Hasan Basri, yang dikemudian hari pernah menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia. Rumah itu terletak di penggalan Jalan Timor yang dekat ke Jalan Sunda dan berada dalam satu barisan dengan rumah bintang filem Baby Huwae yang dikemudian hari dikenal sebagai Lokita Purnamasari.
Continue reading

Buset! Ini mah namanya orang kurang kerjaan, Mama…

Oleh: Mula Harahap

Ketika kedua anak saya masih duduk di bangku sekolah dasar, maka perselisihan yang paling sering saya alami dengan isteri saya ialah dalam soal membaca Alkitab. Isteri saya ingin sekali agar di rumah kami terbangun kebiasaan membaca Alkitab secara bersama-sama.

Isteri saya tumbuh dalam rumah yang memiliki tradisi seperti itu. Oleh karenanya wajar saja kalau dia juga ingin tradisi yang sama terbangun di rumahnya. Tapi cilakanya saya tumbuh dalam rumah dengan tradisi yang berbeda. Jangankan membaca Akitab, berdoa bersama saja, kecuali berdoa makan atau berdoa pada malam tutup tahun, pun kami tak pernah.

Saya bukan hendak mengatakan bahwa ayah saya seorang yang tidak percaya akan Tuhan. Saya rasa dia percaya sekali akan Tuhan. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, kami anak-anak selalu melihatnya berdoa.
Continue reading

Camp untuk Mengisi Libur Panjang Anak-anak

Oleh: Mula Harahap

Ketika anak-anak saya masih duduk di bangku SD, bulan Juni seperti sekarang ini adalah bulan yang menggelisahkan bagi saya. Anak-anak itu akan menjalani libur panjang sekolah. Sementara itu, karena pekerjaan, saya tidak mungkin mengambil cuti panjang menemani mereka berlibur. Paling-paling saya hanya bisa mengambil cuti selama 2 atau 3 hari dan menemani mereka ke luar kota.

Saya selalu kasihan melihat anak-anak, karena sebagian besar libur panjang itu akan mereka habiskan di rumah. Sebenarnya bisa saja saya mengirimkan mereka ke tempat sanak-saudara di kota lain. Tapi mereka tidak mempunyai teman bermain yang sebaya di sana. Karena itu paling-paling, sama seperti di Jakarta, mereka hanya akan menghabiskan waktu di dalam rumah.
Continue reading

How Children Fail

Oleh: Mula Harahap

Di tahun 1970-an pernah terbit sebuah buku yang menggegerkan dan bestseller yang berjudul “How Children Fail” karangan John Holt. Buku ini menceritakan hasil pengamatan sang pengarang–seorang guru SD di AS–selama bertahun-tahun terhadap para anak didiknya.

Dengan rinci John Holt memperlihat di dalam bukunya bagaimana anak-anak berpikir dan menciptakan jalannya sendiri dalam memahami berbagai persoalan. Cara atau jalan mereka memang tidak sama seperti yang dipakai oleh orang dewasa. Tapi ujungnya atau hasilnya tokh sama saja.

Ternyata anak-anak memiliki logika dan persepsinya sendiri dalam memahami pelajaran, dan yang oleh metode pendidikan “what so called” modern (hasil ciptaan orang dewasa) acapkali dianggap salah. Walhasil anak-anak itu acapkali dinilai bodoh.Buku itu tentu saja mendapat kecaman yang keras dari otoritas pendidikan dan para guru.
Continue reading

Ompung Odong-odong

Oleh: Mula Harahap

Entah mengapa, kalau melihat saya, cucu saya yang bernama Gisella, dan yang baru berumur 2 1/2 bulan itu, selalu bertingkah. Mula-mula dia akan tersenyum dan menggeliat-geliatkan tubuhnya. Kemudian kalau saya belum juga memberikan reaksi dia akan mengangkat-angkat pantatnya dan menggerak-gerakkan kedua kaki dan tangannya seperti orang sedang mengayuh becak. Dan kalau saya masih juga belum memberikan reaksi, maka mulailah dia mendorong-dorong tubuhnya ke atas dengan menekan kedua kakinya di atas seperai–seperti belatung atau jentik-jentik nyamuk–seraya mengeluarkan suara, “Ehek…ehek….ehek…” Kalau sudah sampai di fase yang terakhir ini, tentu saja saya akan jatuh hati dan mengangkatnya dari tempat tidur.

Continue reading

Eksperimen Anak-anak

Oleh: Mula Harahap

Ketika masih kecil Henry Ford–penemu produksi mobil dengan sistem ban berjalan itu–pernah membendung selokan yang mengalir di dekat rumahnya sehingga menimbulkan banjir besar. Entah apa yang ada di kepala Henry Ford waktu itu. Mungkin dia hanya sekedari ingin tahu apa akibatnya kalau selokan dibendung.

James Watt penemu mesin uap itu pernah merebus air di dalam ketel tanah liat dan menutup semua lubang pada ketel tersebut juga dengan tanah liat. Akibatnya tentu bisa dibayangkan: ketel itu meledak dan memporak-porandakan dapur ibunya..

Thomas Alva Edison pernah duduk mengerami sejumlah telur ayam. Tentu saja telur ayam itu tidak sempat menetas karena Thomas Alva Edison sudah keburu dianggap gila oleh ibu dan tetangganya

Continue reading