Anggaran Belanja Negara, Daya Stimulusnya dan Pemerataan serta Keadilan bagi Rakyat

Oleh: Mula Harahap

Bahwa belanja pemerintah melalui APBN bisa menjadi stimulus bagi kegiatan dan pertumbuhan ekonomi negara, itu saya setuju. Dengan kata lain, uang yang dibayarkan Pemerintah kepada seorang kontraktor gedung sekolah, akan dipakai oleh kontraktor itu untuk membayar tukangnya, dan uang yang diperoleh tukang itu akan dipakainya untuk membayar baju seragam anaknya kepada seorang pedagang di pasar, dan uang yang diperoleh pedagang di pasar itu akan dipakainya untuk mencicil pembelian rumahnya kepada seorang pengembang, dan uang yang diperoleh pengembang itu akan dipakainya untuk makan ayam goreng, dst. dst.

Tapi saya pikir daya stimulus itu baru bisa berjalan dengan baik kalau dalam pembangunan ada asas keadilan dan pemerataan. Kalau kontraktor yang membangun gedung sekolah itu hanya terpusat di satu atau sedikit kelompok konglomerasi (misalnya hanya Keluarga Bakrie, Keluarga Eka Cipta Wijaya, Keluarga James Ryadi
dsb) dan toko baju seragam dan warung ayam goreng itu juga hanya terpusat di satu atau sedikit konglomerasi (atau yang lebih parah lagi, konglomerasi yang sama dengan yang membangun gedung sekolah itu), maka uang itu hanya menggumpal di sedikit tempat, tidak mengalir kemana-mana, dan–ibarat oli–tidak memutar seluruh sistem.

Continue reading

“Ibu Guru, bapak saya hebat, lho….”

Oleh: Mula Harahap

Buku-buku psikologi perkembangan anak sering mengatakan tentang petingnya seorang bapak menanamkan citra dirinya sebagai sosok yang kuat dan melindungi di mata anak lelakinya. Saya sadar sekali tentang hal tersebut dan selalu berusaha untuk menjadi demikian. Tapi–mungkin disebabkan karena terlalu sering menonton filem-filem kekerasan di teve–entah apa pun yang saya lakukan, anak lelaki saya itu selalu lebih memuji bapak orang lain. Dia terutama sangat kagum dengan tetangga kami yang disapanya sebagai “Oom Nas”. Kawan itu memang memiliki postur tubuh yang jauh lebih berisi daripada saya, dan dadanya ditumbuhi banyak bulu “pulak”.
Continue reading

Ketika Ompung Mula Menunggui Gisella di Sekolah Minggu

Oleh: Mula Harahap

Sudah sejak beberapa bulan ini cucu saya Gisella (23 bulan) mengikuti sekolah minggu untuk kelas anak di bawah usia 3 tahun. Saya tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan ibunya ketika mengikutkan anak yang masih sekecil itu dalam kelas sekolah minggu. Boleh jadi ibunya memang ingin agar sejak awal Gisella telah mendapatkan dasar-dasar kekristenan yang benar di dalam dirinya. Boleh jadi juga ibunya ingin agar Gisella mendapat kesempatan bersosialisasi dengan anak-anak sebayanya, setelah dari Senin sampai Sabtu hanya bergaul dengan orang-orang dewasa di rumah. Boleh jadi juga ibunya–sama juga halnya seperti ibu-ibu lain di dunia ini–ingin memamerkan kebolehan anaknya. Dan apa pun alasan ibunya, saya pikir, semua itu adalah sah-sah saja.
Continue reading

Editing Naskah Buku Umum Non-Fiksi

Oleh: Mula Harahap

Topik pelatihan yang diberikan kepada saya adalah “Editing Naskah Buku Umum Non-Fiksi”. Tapi di dalam kerangka acuan penyelenggaraan pelatihan ini tujuan yang diharapkan dari pelatihan dinyatakan: “Untuk meningkatkan kemampuan meracik naskah yang baik dan benar dari mulai ide/gagasan sampai siap cetak, termasuk menggagas buku sesuai target pembaca.”

Oleh karena itu saya ingin judul pelatihan ini dibaca sebagai: “Editing Buku Umum Non-Fiksi”. Saya pikir editing—terutama pada masa sekarang—memang tidak lagi bermula setelah naskah selesai ditulis oleh pengarang. Editing bahkan telah dimulai jauh sebelum gagasan tentang penulisan sebuah buku itu ada benak pengarang.
Continue reading

Kemelut dalam Indusri Penerbitan Buku Sekolah dan Bagaimana Penerbit Mengatasinya

Oleh: Mula Harahap (Notulis)

Pada hari Jumat 4 Juni 2010, bertempat di kantor IKAPI DKI Jakara telah berlangsung sebuah diskusi “round table” yang membicarakan permasalahan di seputar industri penerbitan buku sekolah.

Diskusi yang diselenggarakan oleh Pengurus IKAPI DKI Jakarta, dan yang dihadiri oleh sejumlah pengamat industri penerbitan buku dan praktisi industri penerbitan buku sekolah ini, adalah diskusi pertama dari serangkaian diskusi untuk memetakan permasalahan yang dihadapi oleh industri penerbitan buku Indonesia, serta mencari pikiran-pikiran bagaimana mengatasi permasalahan tersebut.

Berikut ini adalah rangkuman dari diskusi tersebut. Mudah-mudahan dari rangkuman diskusi awal ini para penerbit anggota IKAPI bisa memahami persoalan secara lebih baik dan bisa memuncukan gagasan dan pikiran untuk perbaikan di masa mendatang.
Continue reading

Video Itu, Saya, Keluarga dan Masyarakat

Oleh: Mula Harahap

Fenomena beredarnya video “mirip” Ariel Pieterpan dengan Luna Maya dan Cut Tari tiba-tiba menyadarkan saya betapa ukuran-ukuran moral sudah sangat berubah–di dalam diri saya dan di sekitar saya–sebagai akibat perubahan teknologi informasi dan komunikasi:

Kabar mengenai beredarnya video ini mula-mula saya ketahui ketika membaca beberapa situs berita di internet. Di dalam situs-situs tersebut ditamplkan pula “photo still” dari Luna Maya yang sedang berbaring sehingga membuat saya jadi sedikit “penasaran”. Tapi karena sejak lama saya sudah membangun sikap untuk tidak mau menonton orang yang memang tidak ingin ditonton, maka rasa penasaran itu bisa saya tekan.
Continue reading

Saya dan Facebook

Oleh: Mula Harahap

Kawan saya seorang Inggeris mengatakan bahwa kalau mereka naik kereta underground di London, maka mereka selalu berusaha untuk duduk tanpa bersentuhan dengan orang di kiri dan kanan, serta berusaha untuk menghindari kontak mata dengan orang di depan. Mereka selalu takut untuk mengganggu privacy orang lain, dan sebaliknya mereka juga tidak mau kalau privacy-nya diganggu. Bahkan pada jam-jam sibuk, ketika kereta sedang padat penumpang, mereka berusaha untuk menjaga “adat” tersebut.

Tapi kata kawan saya itu, hal yang sebaliknya berlaku di Indonesia. Kalau kita sedang naik kereta api, bus atau pesawat terbang kita selalu berusaha untuk melakukan kontak mata, senyum atau sapaan basa-basi dengan orang yang di sebelah atau di depan kita, untuk kemudian dilanjutkan dengan percakapan yang hangat dan intens. Kita tidak terlalu perduli kalau privacy kita diganggu, dan sebaliknya orang juga tidak segan untuk mengganggu privacy kita.
Continue reading